Selamat Datang diblog Desti Balqis

Sabtu, 28 Oktober 2017

Cerpen: Semua Ingin Sekolah, Bukan Game



Semua Ingin Sekolah, Bukan Game

Matanya mengerjap perlahan, disusul tangannya yang mengucek-ucek mata, lalu ia menarik selimut yang masih setia membungkus badannya yang kurus. Matanya masih sangat berat untuk dibuka. Apalagi, gravitasi bumi yang seolah bertambah sepuluh kali lipat saat dirinya berada dikasur. Fyuh, ini pasti karena tadi kemarin ia bermain game hingga larut malam.
Ya, Ariesto Bintang Hajufa namanya. Bocah laki-laki berumur 14 tahun yang kerap disapa Ariesto itu memang sangat kecanduan dengan yang berhubungan dengan game. Mulai dari PlayStation, berbagai jenis game online, sampai game-game yang ada di ponsel canggihnya.
Sayangnya, Ariesto tidak cukup bijak dalam membagi waktunya. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bermain game. Bahkan, saat jam belajar di sekolah pun ia pakai untuk diam-diam bermain game di bawah meja. Beberapa kali ia sudah tertangkap basah, ponsel canggihnya juga sudah sering disita, namun ia tidak pernah kapok. Tidak hanya itu saja pokok masalahnya, tetapi terkadang ia bocah laki-laki itu diam-diam membolos sekolah demi bermain game. Baginya, game sudah di atas segala-galanya. Bahkan di atas pelajaran sekolah.
“Ariesto! Bangun! Sudah pukul enam lebih!” seru Mama dari luar kamar. Karena tak kunjung mendapat respon yang diinginkan dari anak semata wayangnya, Mama membuka pintu kamar Ariesto dan berkacak pinggang.
“Ayolah, Ariesto! Minggu lalu kau sudah tidak masuk sekolah karena ketiduran, kan!” kata Mama yang sudah paham dengan perilaku Ariesto. Sudah berkali-kali Mama mencoba mengubah sikap anaknya, namun hasilnya tetap nihil.
“Umh, Ariesto masih mengantuk, Mama!” keluh Ariesto dengan nada malas.
Mama hendak marah, tetapi beberapa sepersekian menit kemudian, timbul sepercik senyum di bibirnya. “Oh, Ariesto tidak ingin sekolah hari ini?”
“Iya, Mama,” jawab Ariesto sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Baiklah. Tapi, kamu sekarang harus bergegas mandi, lalu pakai baju yang rapi tetapi santai. Kita akan jalan-jalan,” kata Mama sambil bersiap melangkah pergi dari kamar Ariesto.
Mendengar perkataan Mama yang berbeda dengan biasanya, Ariesto langsung duduk terjaga. “Hah? Jalan-jalan? Serius, Ma? Tidak sekolah? Tidak pelajaran? Main?” Ariesto langsung bertanya pada Mama secara bertubi-tubi. Bahkan, kecepatan bicaranya mungkin lebih cepat dari kecepatan roket yang dipakai Neil Amstrong saat menuju ke bulan.
“Iya, kamu tidak salah dengar,” jawab Mama sambil tersenyum hangat. “Tetapi, jalan-jalan kita kali ini tidak seperti jalan-jalan biasanya. Lihat saja nanti,” lanjut Mama.
“Uh, baiklah,” kata Ariesto pada akhirnya. Ia tahu, jika sudah seperti ini, pasti Mama tidak akan memberi tahu dan memilih menyimpan kejutan rapat-rapat walaupun Ariesto berusaha sekeras-kerasnya.
Ah, tak apalah, yang penting tidak sekolah, batin Ariesto. Sebenarnya, kali ini ia sendiri merasa senang sekaligus sedih. Senang karena tidak sekolah dan sedih karena tidak bisa bermain game di rumah karena diajak jalan-jalan.
Segera Ariesto menuruti kata-kata yang terlontar dari Mama. Ia segera mandi dan berganti baju. Ia memakai kaos berwarna biru dan celana jeans. Ya, seperti kata Mama, rapi tetapi santai.
Setelah itu, Ariesto pun turun dari lantai atas dan menemui Mama. Huft, hatinya sudah berdebar-debar membayangkan kejutan apa yang akan disiapkan Mama. Apakah Mama akan mengajaknya ke TimeZone? Atau ke toko game? Atau malah ke pusat pembuatan game? Ia sudah sampai senyum-senyum sendiri membayangkan semua itu.
“Sudah siap?” tanya Mama.
Ariesto mengacungkan jempol. “Sudah, dong, Ma!”
“Nah, sekarang bantu Mama memindahkan barang-barang ini ke garasi mobil,” ujar Mama. Ariesto mengerutkan keningnya. Mengapa Mama membawa banyak pakaian bekas dan alat tulis? ucapnya dalam hati.
 Tapi, Ma, sebenarnya Mama mau mengajak Ariesto ke mana, sih?” tanya Ariesto dengan ekspresi penasaran. Matanya membulat lebar.
“Lihat saja nanti. Pokoknya, Ariesto pasti suka,” jawab Mama dengan ekspresi misterius. Ariesto mendesah. Ugh, ekspresinya sama sekali tidak berpengaruh pada jawaban Mama.
Beberapa menit kemudian, Mama dan Ariesto berangkat. Selama di perjalanan, Ariesto hanya melamun melihat ke luar jendela. Ia menyadari, semakin lama mobil yang ia naiki menuju ke daerah kumuh di kotanya.
Akhirnya, Mama dan Ariesto sudah sampai. Ternyata, Mamanya bukan mengajak Ariesto ke tempat bermain. Bukan juga toko game, apalagi pusat pembuatan game. Harapan Ariesto pupus. Ia sudah tidak semangat lagi. Ya, tempat yang dimaksud Mama ternyata adalah pemukiman kumuh.
“Ma, kok ke sini, sih?” protes Ariesto dengan tidak bersemangat.
“Seru, kan? Yuk, kita ke rumah salah satu warga. Mama udah ke sini, kok, beberapa hari lalu,” ujar Mama sambil tersenyum lebar. “Oh, iya, ayo bantu Mama membawa kardus yang berisi buku, ya!”
            Ariesto mengangguk patah semangat. Ia membawa sekardus buku. Sementara itu, Mama membawa kardus satunya lagi yang berisi pakaian bekas. Lalu, Ariesto mengikuti Mama yang menuju ke suatu gubuk.
            Tok! Tok! Tok! Mama mengetuk pintu gubuk tua itu. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur setahun di bawah Ariesto membukakan pintu. Baju anak itu kotor, beberapa bagian pada celananya bahkan sudah robek. Tangannya tampak membawa sebuah buku tentang astronomi.
            “Ooh, Ibu yang beberapa hari lalu ke sini, ya? Ayo, silakan masuk,” sambut anak laki-laki itu sambil tersenyum manis. Anak itu juga tersenyum pada Ariesto. Mau tak mau, Ariesto balas tersenyum walau hatinya masih jengkel.
            “Iya. Terima kasih,” balas Mama. Mama dan Ariesto pun masuk ke dalam gubuk itu.
Ketika melangkahkan kaki ke dalam, tampak sebelas anak sebaya yang duduk melingkar. Mereka sedang menyoretkan pena di atas selembar kertas. Sepertinya, mereka sedang belajar. Tetapi, kenapa tidak di sekolah?
“Permisi, maaf mengganggu,” kata Mama sambil tersenyum di hadapan anak-anak itu. Sebelas anak yang semula terfokus pada kertas di depan mereka masing-masing pun menoleh dan bergegas berdiri, lalu menyalami tangan Mama. Sementara itu, Ariesto hanya berdiri mematung sambil membawa kardus.
“Maaf mengganggu. Sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini untuk memberikan pakaian dan buku untuk kalian semua, sekaligus mengenalkan anak laki-laki saya yang seumuran dengan kalian, Ariesto,” jelas Mama dengan senyum manisnya di depan anak-anak tadi.
Anak-anak yang ada di gubuk itu sontak langsung melihat ke arah Ariesto dan tersenyum manis. Sementara itu, Ariesto ikut mengukir senyum di bibirnya meski tubuhnya bergetar, ia sangat gugup.
“Ayo, Ariesto, bantu Mama membagikan buku pada mereka. Masing-masing dua, ya!” kata Mama pada Ariesto.
Ariesto mengangguk kaku dan membagikan buku-buku pada anak-anak di situ. Wah, wajah mereka tampak berseri ketika menerima buku dari Ariesto. Melihat hal itu, timbul secercah kebahagiaan di hati kecilnya. Sejenak, ia melupakan tentang game dan harapannya yang tadi tidak terwujud.
Setelah selesai membagikan buku, Ariesto mendekati salah seorang bocah laki-laki sebayanya. “Hai, namamu siapa?” tanya Ariesto pada anak itu.
“Namaku Bagas,” jawab anak itu yang ternyata bernama Bagas.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” ucap Ariesto.
“Kami sedang belajar,” ujar Bagas dengan semangat.
“Kenapa tidak di sekolah?” Ariesto bertanya dengan ekspresi bingung. Kedua alisnya tertekuk dan tepaut menjadi satu.
Air muka Bagas yang semulanya bahagia tiba-tiba berubah drastis. Matanya menunjukkan bahwa ia sangat terpuruk. “Kami semua ingin sekolah. Sangat ingin. Sangat. Tapi apa daya? Bahkan untuk membeli sebuah buku tulis saja kami harus berjuang mati-matian.”
Ariesto menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah sedih Bagas. Ia menjadi tidak enak hati telah bertanya hal yang mungkin sensitif bagi kawan barunya itu. “Maafkan aku yang sudah bertanya seperti itu.”
Bagas tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, aku sudah biasa. Percayalah, aku memang benar-benar ingin sekolah jika aku punya biaya. Tapi, aku sudah bersyukur bisa memegang buku walau hanya dari sumbangan orang dan mempelajarinya. Aku suka menuntut ilmu. Setiap pagi, aku dan teman-temanku berkumpul di tempat ini untuk belajar bersama. Siangnya, kami berjualan koran di perempatan lampu merah.”
“Hm, apakah kau tidak pernah berpikir bahwa sekolah itu membosankan? Belum lagi jika kau sedang malas-malasnya,” tanya Ariesto.
“Tentu saja aku pernah berpikir seperti itu. Bahkan, kami juga pernah bosan dan lelah belajar. Tapi, aku lebih baik menanggung lelahnya belajar di masa muda daripada menanggung perihnya kebodohan di masa yang akan datang. Aku ingin menjadi orang sukses dan membahagiakan kedua orang tuaku,” jelas Bagas.
Lebih baik menanggung lelahnya belajar di masa muda daripada menanngung perihnya kebodohan di masa yang akan datang. Ariesto terperanjat mendengar perkataan kawan barunya itu. Kata-katanya seolah telah menampar hati kecil Ariesto. Di dalam hati Ariesto, ada rasa bersalah yang teramat besar.
Ariesto sadar. Selama ini, ia telah membuang-buang waktu untuk mengerjakan kegiatan yang amat tidak penting dan tidak bermanfaat untuk masa depan. Selama ini, ia selalu menyepelekan sekolah. Selama ini, ia sangat jarang belajar. Selama ini, tidak pernah sedikitpun ia memikirkan masa depan.
Ariesto sadar, banyak di luar sana yang menginginkan sekolah. Sementara ia di sini? Ia di sini yang bisa sekolah justru menyia-nyiakan kesempatan untuk mengukir masa depan itu dan memilih bermain game. Sungguh, ia menyesal.
Mulai detik ini, Ariesto berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan belajar dan membagi waktu dengan bijak. Seorang laki-laki kurus berumur 14 tahun ini berjanji. Sungguh.
“Ariesto?” Seseorang menepuk pundak Ariesto. Ariesto yang sedang melamun spontan telonjak kaget.
“Kok melamun? Ayo, sudah saatnya pulang,” ajak Mama. Ariesto mengangguk sambil tersenyum manis.
Ya, hari ini adalah hari di mana Ariesto berjanji pada dirinya, ia tak akan lagi menyia-nyiakan sekolah. Hari ini adalah hari di mana Ariesto menyadari kesalahannya selama ini. Hari ini adalah hari terakhir ia membolos sekolah hanya karena malas dan ingin bermain game.
10 tahun kemudian...
Pria gagah berjas hitam melangkah masuk ke teras rumah lamanya. Aroma khas langsung tercium di indra penciumannya. Aroma rerumputan basah membuat pikirannya yang akhir-akhir ini berat menjadi lebih ringan.
            Ia menarik bibirnya lebar-lebar. Jantungnya berpacu lebih kencang. Dia menarik nafas dan mengetuk pintu perlahan-lahan.
            Seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Mata wanita tersebut langsung melebar, lalu menyunggingkan senyum. Spontan, sang pria muda langsung memeluk wanita nomor satu yang berada di depannya ini.
            “Bagaimana kabar Mama?” tanya pria itu sambil menitikkan air mata haru. Sudah hampir 4 tahun ia tidak bertemu Mamanya karena menuntut ilmu di negeri seberang.
            “Alhamdulillah, baik. Mama sangat rindu dengan Ariesto,” jawab Mama.
            “Apalagi Ariesto,” ujar pria muda yang tak lain adalah Ariesto.
            Ya, saat ini, Ariesto telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Jerman. Ia mengambil jurusan teknik mesin.
            “Ayo, kamu pasti capek, kan, Nak?” tanya Mama. Ariesto mengangguk sambil tersenyum sumringah.
            Ariesto dan Mama pun menuju ke kamar masa kecil Ariesto, kamar yang menyimpan sejuta pengalaman.
            “Sebentar ya, Nak. Mama tadi sedang masak,” ucap Mama.
            “Baik, Ma,” ujar Ariesto.
            Ariesto lalu duduk di kasurnya. Pandangannya menyapu sekeliling. Masih sama seperti dahulu. Hanya saja, kini kamarnya tampak lebih rapi dan sepi tentu saja.
            Ariesto membuka rak yang terletak tepat di sebelah kasurnya. Tampak tersusun rapi berbagai jenis media elektronik untuk bermain game. Ia tersenyum. Pikirannya melayang pada 10 tahun yang lalu.
            Ah, ya, untung saja dulu dirinya tersadar. Ya, tersadar bahwa sekolah itu penting. Kalau tidak, ia tidak akan bisa menjadi dirinya yang sekarang.
            Sedetik kemudian, Ariesto tersadar akan suatu hal. Bagaimana Bagas sekarang? Sampai kapanpun, Ariesto akan selalu ingat pada orang yang berhasil mengubahnya menjadi lebih baik. Ia tersenyum. Ia yakin, saat ini Bagas pasti telah berhasil menjadi orang sukses.
***

Selasa, 13 September 2016

Cerpen: Menuju ke Masa Depan



Menuju Masa Depan


Pada tahun 2075, hiduplah seorang anak berumur 13 tahun. Anak itu bernama Gadis. Gadis adalah anak yang selalu ingin tahu dengan hal yang baru. Beruntung, semua yang ia inginkan dapat dituruti oleh kedua orang tuanya. Orangtuanya memang sangat kaya. Gadis hidup di  kota yang padat penduduknya..

Pada suatu hari, Gadis baru saja membeli sebuah aplikasi. Katanya aplikasi tersebut dapat membawa orang yang membuka aplikasi tersebut terjun ke masa 100 tahun kemudian, yang berarti tahun 2175 dan dapat pula membawa ke masa lampau.  Karena Gadis memiliki sifat yang selalu ingin tahu, ia pun mencoba aplikasi itu. Gadis mencoba aplikasi itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Jika ia memberi tahu orangtuanya, pasti orangtuanya tidak memperbolehkan.

Gadis sudah tak sabar ingin mencoba aplikasi barunya. Ia pun membuka aplikasi itu. Setelah di buka, terdapat tulisan depan atau belakang. Gadis sedikit bimbang ingin memilih yang mana. Apakah jika aku menekan tombol depan, aku akan menuju masa depan? Sementara jika aku menekan tombol belakang, aku akan menuju masa lampau?, pikir Gadis. Akhirnya, ia memutuskan untuk memilih tombol belakang terlebih dahulu. Ia pun menekan tombol belakang. Setelah menekan tombol belakang, muncul tulisan “Pilihlah ke tahun yang Anda inginkan!”. Gadis mengetik tahun 2007, saat smartphone berfitur layar sentuh pertama kali diciptakan. Itu yang dia tahu.

Sekonyong-konyong, tubuh Gadis masuk ke dimensi waktu. Beberapa detik kemudian, dia sudah berada di tahun 2007. Tepatnya di rumah Steve Jobs. Ia melihat Steve Jobs sedang mencoba menciptakan smartphone. Gadis serius memerhatikan dan mendekat. Tak sengaja ia menjatuhkan tang. Steve Jobs pun terkejut. Ia memandang aneh terhadap Gadis.

“Siapa kamu? Dari mana asalmu?” tanya Steve Jobs. “Aku Gadis, dari tahun 2075,” jawab Gadis. “Aku tak yakin kamu menjawabnya dengan jujur. Tapi jika kamu ingin melihatku mencoba menciptakan smartphone dengan fitur layar sentuh boleh saja,” kata Steve Jobs. Gadis berterima kasih kepada Steve Jobs karena diperbolehkan untuk sedikit “mengganggu”nya.

Tiba-tiba, alat di tangannya berbunyi. Sepertinya waktu Gadis untuk berkunjung ke tahun 2007 sudah habis. Ia pun terjun ke dimensi waktu dan kembali ke tahunnya, tahun 2075. Tepat di depan gadgetnya. Tak sabar, ia pun memencet tombol depan.Menuju tahun 2175.

Ia terjun ke dimensi waktu. Selang beberapa waktu, ia sudah tiba di tahun 2175. Tampaknya, orang di jaman itu sudah sangat jarang berinteraksi. Semua orang sudah sibuk dengan teknologi yang super canggih. Karena teknologi yang canggih, orang-orang juga jarang bergerak aktif karena mereka pindah tempat dari satu posisi ke posisi lainnya dengan menggunakan alat. Hanya perlu menekan tombol pada alat tersebut.

Orang-orang berlalu lalang menggunakan sebuah alat. Hanya Gadis saja yang saat itu tidak menggunakan alat berteknologi canggih itu. Orang-orang memandang aneh kea rah Gadis. Mungkin gaya Gadis terlalu kuno untuk masa 2175.

Alat di tangannya berbunyi lagi. Gadis kembali ke masanya, tahun 2075. Ia kembali terduduk di sofa dengan tangan memegang gadget. Gadis merenungkan pengalamannya meluncur ke masa lampau dan masa depan. Gadis dapat menyimpulkan bahwa perkembangan teknologi menyebabkan dampak positif sekaligus dampak negatif. Dampak positifnya adalah dapat mempermudah kehidupan manusia. Sementara dampak negatifnya adalah antarmanusia menjadi jarang bersosialisasi dan cenderung malas. Oh karena itu, Gadis berjanji pada dirinya sendiri, walaupun kelak teknologi akan berkembang dengan pesat, Gadis akan tetap membudayakan bersosialisasi dan menjadi orang yang tidak pemalas.

Unsur-unsur Intrinsik :
o   Penokohan
·       Tokoh : Gadis, Steve Jobs, orang-orang di tahun 2175
·       Katakter tokoh : -Gadis berwatak ingin tahu, cerdas, dan teguh pendirian.
-Steve Jobs : cerdas, pantang menyerah, dan kreatif.
-Orang-orang tahun 2175 : tidak peduli sekitar dan pemalas.
o   Latar
·       Latar waktu : tahun 2075, tahun 2007, dan tahun 2175
·       Latar tempat : rumah Gadis, rumah Steve Jobs, dimensi waktu, dan sebuah kota metropolitan.
·       Latar suasana : kecewa dan bahagia
o   Alur
·       Alur : Campuran.
o   Sudut pandang
·       Sudut pandang orang ketiga
o   Amanat
·       Amanat/pesan yang terkandung dalam cerita : Budayakan bersosialisasi dan jadilah orang yang tidak terlalu bergantung pada teknologi.

Jumat, 12 Agustus 2016

Artikel: Pasar Beringharjo



 ANTIKNYA PASAR BERINGHARJO

Pasar adalah tempat umum di mana bertemunya penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli melakukan transaksi secara langsung. Di pasar tradisional, biasanya ada proses tawar-menawar. Bangunan pasar tradisional biasanya terdiri atas kios atau gerai, los, dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual atau suatu pengelola pasar. Pasar biasanya menjual berbagai kebutuhan  sehari-sehari. Misal, bahan pangan, pakaian, alat elektronik, alat rumah tangga, dan masih banyak lainnya. Pasar tradisional masih banyak ditemui di Indonesia dan umumnya berada di dekat pemukiman warga agar warga dapat berbelanja dengan mudah. Contoh pasar yang legendaris adalah Pasar Beringharjo di Yogyakarta, Pasar Klewer di Solo, dan Pasar Johar di Semarang. Alangkah baiknya melestarikan pasar tradisional di Indonesia karena merupakan budaya Indonesia. Pasar tradisional di Indonesia saat ini mencoba untuk bertahan dari serangan pasar modern.

Pasar Beringharjo adalah pasar tradisional di Yogyakarta yang patut dikunjungi. Pasar Beringharjo sudah menjadi pusat perekonomian selama ratusan tahun dan memiliki makna filosofis. Wilayah Pasar Beringharjo awalnya merupakan hutan beringin. Namun, setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, wilayah itu mulai dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat transaksi  memiliki bangunan permanen dan diberi nama Pasar Beringharjo. Arti dari nama Beringharjo adalah tempat yang awalnya beringin (bering) yang harapannya akan menjadi kesejahteraan (harjo). Nama tersebut diberikan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Seperti pasar-pasar tradisional lainnya, Pasar Beringharjo memiliki sejarah tersendiri. Oleh karena itu, Pasar Beringharjo memiliki nilai historis.

Pasar Beringharjo terletak di Jalan Jenderal Ahman Yani nomor 16, Yogyakarta. Ada banyak barang yang dapat dibeli di Pasar Beringharjo. Seperti pakaian, obat-obatan, dan  makanan. Ada juga budaya tradisional Yogyakarta. Contohnya batik, baju adat, jamu, rempah-rempah, dan mainan tradisional. Selain itu, Pasar Beringharjo menjual berbagai barang antik dan impor bekas yang berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.

Pasar Beringharjo memiliki ciri khas bangunan yang dapat dilihat pada bangunannya yang merupakan perpaduan antara arsitektur kolonial dan tradisional Jawa. Pasar Beringharjo terdiri dari dua bangunan yang terpisah yaitu bagian barat dan bagian timur. Bangunan utama terletak di bagian barat. Bagian barat terdiri dari dua lantai. Sementara gedung bagian timur terdiri dari tiga lantai. Pintu utama ini bertuliskan Pasar Beringharjo dengan tulisan aksara Jawa. Pintu utama ini berhubungan langsung dengan jalan utama pasar yang dibangun lurus dari arah barat ke timur.

Jika ingin mencari makanan, maka berkunjunglah ke bagian depan dan belakang Pasar Beringharjo. Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk membeli aneka jajanan pasar. Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Sementara bagian belakang umumnya menjual makanan yang dapat tahan lama. Adapula makanan-makanan tradisional seperti yangko, geplak, peyek tupuk, ampyang, kipo, getuk, tiwul, gatot, ceni, dan jadah tempe.

Pasar Beringharjo juga tempat yang tepat jika ingin membeli batik. Hal itu karena Pasar Beringharjo memiliki koleksi batik yang lengkap. Mulai dari batik kain maupun sudah jadi, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai jutaan dapat dijumpai di pasar tertua Yogyakarta ini. Jika mencari kain batik, dapat dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara. Sementara koleksi pakaian batik ada di seluruh pasar bagian barat. Selain itu, di los pasar bagian barat juga tersedia pakaian surjan, blangkon, dan sarung tenun maupun batik. Sementara sandal dan tas dengan harga yang murah ada di sekitar eskalator pasar bagian barat. Di lantai dua pasar bagian timur, di sana tempat menjual berbagai jamu, obat, dan rempah-rempah. Tak heran jika kita akan mencium bau jejamuan. Naik ke lantai tiga bagiantimur, dapat dijumpai berbagai barang antik. Mulai dari mesin ketik sampai helm buatan tahun 60-an. Barang-barag impor bekas mancanegara seperti tas dan sepatu bekas juga dapat ditemui di sana. Jadi, Pasar Beringharjo adalah pasar yang memiliki makna historis dan terdapat berbagai barang yang dijual di sana. Pasar Beringharjo harus kita lestarikan keberadaannya.

Sabtu, 21 Mei 2016

Cerpen : Cinta untuk Mama



Cinta untuk Mama
Ini hari Senin. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 06.15. Dengan tergasa-gesa, aku segera mandi dan sarapan. Untung saja, perlengkapan sekolah sudah kusiapkan tadi malam. Eren ternyata sudah di meja makan. Kulihat, Mama sedang bersiap-siap untuk mengantarkan kami. Sementara Papa pasti sudah berangkat kerja sejak tadi pagi.
            “Aduh, Dea, kok pukul segini baru sarapan?             Ayo cepat, keburu telat! Lain kali, bangunnya harus lebih pagi, ya! Eren saja sekarang sudah selesai sarapan,” kata Mama menasehatiku panjang lebar. “Iya iya, Ma! Lagipula kenapa Mama tadi tidak membangunkanku?” kataku dengan sebal. “Mama kira Dea sudah bangun dari tadi pagi, kamu kan sudah kelas enam, harus lebih mandiri!” kata Mama. Aku hanya mengangguk dengan kesal seraya cepat-cepat menghabiskan sarapanku.
            Setelah selesai sarapan, aku dan Eren segera diantar Mama ke sekolah. Sepanjang perjalanan, aku hanya mendengus sebal. Kenapa sih Mama selalu marah-marah dan menyuruhku ini itu. Tapi tidak dengan Eren adikku. Walaupun ada kesalahan yang dibuat oleh Eren, tetap saja aku yang selalu dinasehati. Kata Mama karena aku sudah besar harus mulai belajar mandiri dan disiplin. Dan sebagai Kakak aku harus bisa memberi contoh baik untuk adik. Aku jadi iri sama Eren, sampai aku berpikir kenapa bukan aku yang jadi adik. 
            Namaku Delisha Eryna Adeeba. Panggil saja aku Dea. Aku sekolah di SD Budi Mulia Dua, kelas 6. Di sekolah, aku termasuk anak yang periang, ramah, dan cerdas. Tetapi jika di rumah, aku sering marah-marah sama Mama karena menurutku Mama tidak adil dan lebih menyayangi Eren, adikku. Usiaku beda lima tahun dengan Eren. Ups..karena melamun tak terasa sudah sampai di sekolah. Aku pamit pada Mama dan bergegas menuju kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Teng teng..pukul 14.30 jam pulang berbunyi. Aku dan Eren bergegas ke playground sambil menunggu Mama. Tapi ternyata Papa yang jemput. “Mama mana, Pa? Tumben Papa yang jemput?” tanya Eren. “Mama harus dirawat di rumah sakit karena penyakit tyfus.” jawab Papa. “Apa?” jawabku dengan kaget. Memang sih sudah 3 hari Mama mengeluh badannya panas dan tadi pagi Mama terlihat pucat dan lemas. Tapi tidak kusangka Mama harus opname di rumah sakit. Papa mengajak kami ke rumah sakit.   
Sekitar satu jam di rumah sakit, Papa pun mengantarkan kami ke rumah. Sementara Papa harus menjaga Mama di rumah sakit. Kata Papa, besok nenek akan datang ke rumah. Sementara belum ada nenek, aku dan Erenlah yang bertanggung jawab di rumah.
            Setelah Papa kembali ke rumah sakit, aku dan Eren bergantian mandi. Kemudian aku dan Eren membagi tugas. Aku akan memasak untuk makan malam dan mencuci piring. Eren menyapu dan membereskan kamar. Aku menggoreng ayam yang sudah disimpan Mama di kulkas, nasi sudah ada. Karena lupa tidak ditutup, saat menggoreng minyaknya meletus sampai kemana-mana. Jadi terpaksa sebelum makan harus membersihkan sisa-sisa minyak. Setelah selesai makan. Aku dan Eren belajar
             “Aku capek, Ren!” keluhku.“Iya sebenarnya aku juga capek. Tapi, ini kan tanggung jawab kita. Berarti Mama melakukan ini setiap hari ya, Kak?” tanya Eren.“Iya, ya!” jawabku. “Betul juga kata Eren” kataku dalam hati. Berarti Mama setiap hari harus bekerja keras, meyiapkan makan, mencuci baju, mengepel, antar jemut sekolah, menemani belajar. Aku jadi teringat saat adik masih bayi. Mama mengurus adik dan aku sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mama juga yang selalu membantu  dan memotivasiku disaat aku merasa lelah dan putus asa. Menghiburku di saat aku sedih. Mama yang mengajariku kebaikan. Aku jadi sadar bahwa semua omelanmu itu untuk kebaikanku Mama. Aku menyesal sudah berpikiran buruk tentang Mama.
“Kak kok melamun?’ Eren menyadarkan lamunanku. “eh tidak kok Dik, Kakak hanya kangen sama Mama, yuk belajar lagi” jawabku. Aku harus bisa membalas kebaikan Mama dan Papa. Aku harus menjadi orang sukses, pikirku.
            Mulai sekarang, aku berjanji tidak akan mengabaikan nasehat Mama dan selalu menjadi anak yang baik. Oh, iya, aku juga berusaha agar tidak iri dengan Eren dan menjadi Kakak yang bisa memberi contoh yang baik buat Eren. Aku akan membuatmu bangga Mama.
            Keesokan harinya, nenek datang ke rumah untuk menemaniku dan Eren. 3 hari kemudian Mama diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah Mamaku sudah sembuh. Love U Mama.

Kamis, 25 Juni 2015

Cerpen : My Lovely Sister

My Lovely Sister

Hih! Aku sedang sebal dengan adikku, Fira. Ia selalu merebut benda apapun yang sedang kupakai. Mulai dari handphone sampai buku bacaan. Kadang, Fira juga jahil.

Pernah saat itu, aku mempunyai gelang pemberian dari sahabatku. Tapi, gara-gara Fira, gelangku menjadi rusak. Tentu saja, aku sangat marah pada Fira. Tapi, Mama bukannya membelaku, tetapi malah menasehatiku bahwa Fira masih terlalu kecil untuk paham. Tetapi, aku tetap tidak memperdulikan nasehat dari Mama.

Pernah juga, Fira menghilangkan buku pelajaranku saat ujian kenaikan kelas (UKK). Aku langsung mengamuk dan memarahi Fira. Apalagi, yang dihilangkan adalah buku Bahasa Inggris, pelajaran favorite sekaligus pelajaran tersusah bagiku. Namun, lagi-lagi Mama tidak memarahi Fira tetapi malah menasehatiku lagi. Aku sampai bosan.

Satu lagi, pernah Fira merebut kipas angin dikamarku. Padahal, dikamar Mama (Fira masih tidur sama Mama) sudah ada ACnya. Kalau masalah ini, aku tidak terlalu marah. Sebaliknya, aku malah tertawa terbahak-bahak. 😀

Tetapi, ada suatu kejadian yang membuatku sadar bahwa adikku ini sangat menyayangiku.

Saat itu, aku sehabis shalat Isya di masjid. Aku pulang dari masjid. Sesampainya dirumah, tepat pada saat itu, mati lampu. Aku segera mencari senter dan buru-buru menyalakan. Ternyata, Fira sedang duduk ketakutan disofa teras.

Saat kutanya dimana Mama dan Papa, Fira menjawab Mama dan Papa sedang pergi belanja untuk kebutuhan sekolahku dan Fira. Lalu kutanya lagi, kok Fira tidak ikut.

Dengan polos, ia menjawab:  "Soalnya mau menemani mbak Desti. Nanti mbak Desti sendirian. 😀

Jadi,  sayangi apa yang sudah ada sebelum jauh meninggalkanmu..😚

Selasa, 19 Mei 2015

Cerpen : Pengalaman ke Prambanan

Cerpen : Pengalaman ke Prambanan

Hari ini, aku bosan hanya liburan di rumah. Hmmm... kemana ya? Ke Mall? Sudah bosan, masa setap liburan ke mall? Lagi pula ngabis-ngabisin uang! Boros, kan, jadinya.

"Gimana kalau ke Candi Prambanan. Kita, kan, belum pernah kesana!" usul Rafi, adikku.

"Boleh juga, lho!" kata Mama menyetujui usulan Rafi.

"Hmmn, emangnya disana ada apa, sih?" tanyaku.

"Disana ada candi yang menyimpan salah satu budaya di Indonesia ini, tepatnya di Jogja. Ada ceritanya juga, lho!" jawab Mama. "Yasudah, sana cepat siap-siap," lanjut Mama.

Aku, Rafi, dan Fira mandi bergantian. Aku mengenakan kaos ungu bergambar Teddy Bear dan celana jeans panjang. Sementara Rafi mengenakan kaos orange berkancing dan celana berbahan jeans selutut. Yang terakhir Fira mengenakan dress ala anak-anak balita berwarna merah.

Setelah siap, aku dan keluargaku membeli camilan dulu. Kata Mama, disana pasti pengin ngemil. Kami membeli banyak camilan. Mulai dari camilan kering, camilan basah, sampai minuman. Itu semua hampir aku semua yang memilih, lho!

Lalu, kami menuju Candi Prambanan menggunakan mobil. Diperjalanan, aku bercanda dengan Rafi dan Fira. Rafi memang senang melontarkan lelucon. Walaupu kadang-kandang leluconnya garing juga, sih! Hahaha...

Sesampainya disana, kami berfoto-foto dahulu. Aku memfoto pemandangan indah dengan lagak seperti photographer profesional. Seentara Fira dan Rafi lari-lari kesana-kemari. Eh, emangnya lagunya Ayu Tingting? Hahaha...

Disana, ada banyak sekali candi. Kabarnya, dulu candi ini berjumlah 1000 candi. Namun, sekaang sudah banyak yang runtuh karena gempa tau penyebab lainnya. Ada canti Siwa, Candi Wisnu, Candi Brahma, Candi Nandi, Candi Garuda, dan banyak candi lainnya yang juga bagus-bagus. Namun, Candi yang paling besar adalah Candi Siwa.

Karena disana merupakan salah satu budaya yang ada di Indonesia, banyak turis yang mengunjungi Candi Prambanan. Ada yang dari America, China, Jepang, dan India. Itu bukti dari keindahan arsitektur Candi Prambanan.

Setelah 1 jam  berkeliling-keliling, kami istirahat sebentar. Kami memakan cemilan yang tadi sudah dibawa dari rumah. Saking rakusnya, aku sampai ditertawakan salah satu turis yang sepertinya berasal dari China. Hahaha... Walaupu agak malu, aku tetap senang.

Lalu, kami melanjutkan berkeliling-keliling candi lagi. Kalau sekarang, pemandangan lebih indah karena langit bergradasi tiga warna, yaitu putih biru, dan orange. Wow, bagus ya!

Karena hari sudah hampir gelap, kami pulag dengan hati gembira.

Jadi masi mau liburan cuma di mall terus?

Cerpen: Harus Jujur!

HARUS JUJUR!

Disebuah desa, ada tiga bersaudara bernama Intan, Ifa, dan Kiki. Mereka hidup dalam keterbatasan. Intan yang masih berumur 17  tahun bekerja sebagai buruh cuci dirumah-rumah tetangga. Ifa bekerja sebagai pedagang pisang goreng. dan yang terakhir Kiki, Kiki hanya membersihkan rumah saja. Intan dan Ifa tidak membolehkan Kiki bekerja. Toh, Kiki juga masih terlalu kecil.

Hari ini, Intan sedang banyak pekerjaan. Tapi ustru Intan malah merasa senang. Kenapa? Karena semakin banyak pekerjaan, semakin banyak gaji yang didapat, kan? Jarang-jarang pekerjaan Intan sebanyak ini.

"Ifa berangkat jualan pisang dulu, ya!" pamit Ifa.

"Iya," jawab Intan dan Kiki berbarengan.

"Kak Intan, boleh tidak aku kerumah Sisil? Aku sudah janjian akan bermain badminton pagi ini," pamit Kiki dengan sopan kepada Intan.

"Boleh. Tapi, sebelum Dhuhur sudah harus pulang, ya! Kakak mungkin pulang pukul dua belas, kalau kak Ifa mungkin sepuluh pagi," jawab Intan.

"Baik, Kak!" kata Kiki.

"Hati-hati dijalan! Jangan lari!" kata Intan mengingatkan.

Selang beberapa menit setelah Ifa dan Kiki pergi, Intan menuju ke rumah Bu Asri untuk bekerja. Intan memang bekerja di tiga rumah. Sesampainya dirumah Bu Asri, Intan mengucap salm.

"Assalamu'alaikum," kata Intan.

"Wa'alaikum salam. Oh, ternyata Intan. Silakan masuk," jawab Bu Asri dengan ramah. Bu Asri memang sangat ramah kepada siapapun.

Intan memasuki rumah Bu Asri yang cukup besar. Lalu, Intan segera mencuci pakaian dan alat masak yang kotor. Intan sama sekali tidak mengeluh.

"Intan, besok libur ya kerjanya. Soalnya saya keluar kota," kata Bu Asri tiba-tiba.

"O ya Bu, Terima kasih," jawab Intan.

Setelah semua pekerjaannya dirumah Bu Asri selesai, Intan berpamitan pada Bu Asri. Kali ini, Intan akan berkerja dirumah Bu Manda. Kalau pekerjaan dirumah Bu Manda, sih, tidak banyak. jadi hanya perlu waktu sebentar saja.

Selesai dirumah Bu Manda, Intan menuju rumah Bu Syifa. kalau dirumah Bu Syifa beda, cuciannya dibawa kerumah dan dikerjakan dirumah. Namun meskipun begitu, INtan tetap jujur.

"Ini ada buku-buku bekas anak saya. Mau tidak?" tawar BU Syifa.

"Mau, Bu!" jawab Intan mengiyakan.

"Ya sudah, ini buku-bukunya. Semoga bermanfaat," kata Bu Syfa seraya memberikan dua kresek besar.

Intan bergegas pulang kerumah. Sesampainya di rumah, dilihatnya Kiki sedang tidur dan Ifa sedang membaca buku.

"Hai If! Ini kakak bawa buku-buku dari Bu Syifa!" ujar Intan.

"Buku? Wah Bu Syifa sangat baik, ya!" kata Ifa. Intan hanya mengangguk.

                                                                                   :)
Tidak seperti biasanya, hari ini Intan berangkat kerja pukul 09.00. Karena itu, Intan dan Kiki memutuskan untuk membantu Ifa berjualan pisang goreng. Dari pada tidak ada kerjaan dirumah? mendingan membantu Ifa, kan?


Banyak pembeli berdatangan. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Intan, Ifa, dan Kiki beres-beres pulang. Saat memberekan, Kiki menemukan tas ransel hitam,. Kiki pun memberi tahu Intan dan Ifa.

Intan ingat, bahwa itu tas milik pembeli setia mereka, Bu Sari. Setiap hari, pasti Bu Sari membeli pisang goreng. Intan, Ifa, dan Kiki sepakat ingin mengembalikan tas itu besok saat Bu Sari beli.

Besoknya...

Sesuai dengan rencana, Intan dan adiknya mengembalikan tas Bu Sari. Bu Sari sangat berterima kasih dan memberi uang serta membolehkan mereka tinggal di Panti Asuhan milik Bu Sari.

Itu dia teman-teman! Buah dari kejujuran!