Selamat Datang diblog Desti Balqis

Jumat, 12 Agustus 2016

Artikel: Pasar Beringharjo



 ANTIKNYA PASAR BERINGHARJO

Pasar adalah tempat umum di mana bertemunya penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli melakukan transaksi secara langsung. Di pasar tradisional, biasanya ada proses tawar-menawar. Bangunan pasar tradisional biasanya terdiri atas kios atau gerai, los, dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual atau suatu pengelola pasar. Pasar biasanya menjual berbagai kebutuhan  sehari-sehari. Misal, bahan pangan, pakaian, alat elektronik, alat rumah tangga, dan masih banyak lainnya. Pasar tradisional masih banyak ditemui di Indonesia dan umumnya berada di dekat pemukiman warga agar warga dapat berbelanja dengan mudah. Contoh pasar yang legendaris adalah Pasar Beringharjo di Yogyakarta, Pasar Klewer di Solo, dan Pasar Johar di Semarang. Alangkah baiknya melestarikan pasar tradisional di Indonesia karena merupakan budaya Indonesia. Pasar tradisional di Indonesia saat ini mencoba untuk bertahan dari serangan pasar modern.

Pasar Beringharjo adalah pasar tradisional di Yogyakarta yang patut dikunjungi. Pasar Beringharjo sudah menjadi pusat perekonomian selama ratusan tahun dan memiliki makna filosofis. Wilayah Pasar Beringharjo awalnya merupakan hutan beringin. Namun, setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, wilayah itu mulai dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat transaksi  memiliki bangunan permanen dan diberi nama Pasar Beringharjo. Arti dari nama Beringharjo adalah tempat yang awalnya beringin (bering) yang harapannya akan menjadi kesejahteraan (harjo). Nama tersebut diberikan oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Seperti pasar-pasar tradisional lainnya, Pasar Beringharjo memiliki sejarah tersendiri. Oleh karena itu, Pasar Beringharjo memiliki nilai historis.

Pasar Beringharjo terletak di Jalan Jenderal Ahman Yani nomor 16, Yogyakarta. Ada banyak barang yang dapat dibeli di Pasar Beringharjo. Seperti pakaian, obat-obatan, dan  makanan. Ada juga budaya tradisional Yogyakarta. Contohnya batik, baju adat, jamu, rempah-rempah, dan mainan tradisional. Selain itu, Pasar Beringharjo menjual berbagai barang antik dan impor bekas yang berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.

Pasar Beringharjo memiliki ciri khas bangunan yang dapat dilihat pada bangunannya yang merupakan perpaduan antara arsitektur kolonial dan tradisional Jawa. Pasar Beringharjo terdiri dari dua bangunan yang terpisah yaitu bagian barat dan bagian timur. Bangunan utama terletak di bagian barat. Bagian barat terdiri dari dua lantai. Sementara gedung bagian timur terdiri dari tiga lantai. Pintu utama ini bertuliskan Pasar Beringharjo dengan tulisan aksara Jawa. Pintu utama ini berhubungan langsung dengan jalan utama pasar yang dibangun lurus dari arah barat ke timur.

Jika ingin mencari makanan, maka berkunjunglah ke bagian depan dan belakang Pasar Beringharjo. Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk membeli aneka jajanan pasar. Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Sementara bagian belakang umumnya menjual makanan yang dapat tahan lama. Adapula makanan-makanan tradisional seperti yangko, geplak, peyek tupuk, ampyang, kipo, getuk, tiwul, gatot, ceni, dan jadah tempe.

Pasar Beringharjo juga tempat yang tepat jika ingin membeli batik. Hal itu karena Pasar Beringharjo memiliki koleksi batik yang lengkap. Mulai dari batik kain maupun sudah jadi, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai jutaan dapat dijumpai di pasar tertua Yogyakarta ini. Jika mencari kain batik, dapat dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara. Sementara koleksi pakaian batik ada di seluruh pasar bagian barat. Selain itu, di los pasar bagian barat juga tersedia pakaian surjan, blangkon, dan sarung tenun maupun batik. Sementara sandal dan tas dengan harga yang murah ada di sekitar eskalator pasar bagian barat. Di lantai dua pasar bagian timur, di sana tempat menjual berbagai jamu, obat, dan rempah-rempah. Tak heran jika kita akan mencium bau jejamuan. Naik ke lantai tiga bagiantimur, dapat dijumpai berbagai barang antik. Mulai dari mesin ketik sampai helm buatan tahun 60-an. Barang-barag impor bekas mancanegara seperti tas dan sepatu bekas juga dapat ditemui di sana. Jadi, Pasar Beringharjo adalah pasar yang memiliki makna historis dan terdapat berbagai barang yang dijual di sana. Pasar Beringharjo harus kita lestarikan keberadaannya.

Sabtu, 21 Mei 2016

Cerpen : Cinta untuk Mama



Cinta untuk Mama
Ini hari Senin. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 06.15. Dengan tergasa-gesa, aku segera mandi dan sarapan. Untung saja, perlengkapan sekolah sudah kusiapkan tadi malam. Eren ternyata sudah di meja makan. Kulihat, Mama sedang bersiap-siap untuk mengantarkan kami. Sementara Papa pasti sudah berangkat kerja sejak tadi pagi.
            “Aduh, Dea, kok pukul segini baru sarapan?             Ayo cepat, keburu telat! Lain kali, bangunnya harus lebih pagi, ya! Eren saja sekarang sudah selesai sarapan,” kata Mama menasehatiku panjang lebar. “Iya iya, Ma! Lagipula kenapa Mama tadi tidak membangunkanku?” kataku dengan sebal. “Mama kira Dea sudah bangun dari tadi pagi, kamu kan sudah kelas enam, harus lebih mandiri!” kata Mama. Aku hanya mengangguk dengan kesal seraya cepat-cepat menghabiskan sarapanku.
            Setelah selesai sarapan, aku dan Eren segera diantar Mama ke sekolah. Sepanjang perjalanan, aku hanya mendengus sebal. Kenapa sih Mama selalu marah-marah dan menyuruhku ini itu. Tapi tidak dengan Eren adikku. Walaupun ada kesalahan yang dibuat oleh Eren, tetap saja aku yang selalu dinasehati. Kata Mama karena aku sudah besar harus mulai belajar mandiri dan disiplin. Dan sebagai Kakak aku harus bisa memberi contoh baik untuk adik. Aku jadi iri sama Eren, sampai aku berpikir kenapa bukan aku yang jadi adik. 
            Namaku Delisha Eryna Adeeba. Panggil saja aku Dea. Aku sekolah di SD Budi Mulia Dua, kelas 6. Di sekolah, aku termasuk anak yang periang, ramah, dan cerdas. Tetapi jika di rumah, aku sering marah-marah sama Mama karena menurutku Mama tidak adil dan lebih menyayangi Eren, adikku. Usiaku beda lima tahun dengan Eren. Ups..karena melamun tak terasa sudah sampai di sekolah. Aku pamit pada Mama dan bergegas menuju kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Teng teng..pukul 14.30 jam pulang berbunyi. Aku dan Eren bergegas ke playground sambil menunggu Mama. Tapi ternyata Papa yang jemput. “Mama mana, Pa? Tumben Papa yang jemput?” tanya Eren. “Mama harus dirawat di rumah sakit karena penyakit tyfus.” jawab Papa. “Apa?” jawabku dengan kaget. Memang sih sudah 3 hari Mama mengeluh badannya panas dan tadi pagi Mama terlihat pucat dan lemas. Tapi tidak kusangka Mama harus opname di rumah sakit. Papa mengajak kami ke rumah sakit.   
Sekitar satu jam di rumah sakit, Papa pun mengantarkan kami ke rumah. Sementara Papa harus menjaga Mama di rumah sakit. Kata Papa, besok nenek akan datang ke rumah. Sementara belum ada nenek, aku dan Erenlah yang bertanggung jawab di rumah.
            Setelah Papa kembali ke rumah sakit, aku dan Eren bergantian mandi. Kemudian aku dan Eren membagi tugas. Aku akan memasak untuk makan malam dan mencuci piring. Eren menyapu dan membereskan kamar. Aku menggoreng ayam yang sudah disimpan Mama di kulkas, nasi sudah ada. Karena lupa tidak ditutup, saat menggoreng minyaknya meletus sampai kemana-mana. Jadi terpaksa sebelum makan harus membersihkan sisa-sisa minyak. Setelah selesai makan. Aku dan Eren belajar
             “Aku capek, Ren!” keluhku.“Iya sebenarnya aku juga capek. Tapi, ini kan tanggung jawab kita. Berarti Mama melakukan ini setiap hari ya, Kak?” tanya Eren.“Iya, ya!” jawabku. “Betul juga kata Eren” kataku dalam hati. Berarti Mama setiap hari harus bekerja keras, meyiapkan makan, mencuci baju, mengepel, antar jemut sekolah, menemani belajar. Aku jadi teringat saat adik masih bayi. Mama mengurus adik dan aku sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mama juga yang selalu membantu  dan memotivasiku disaat aku merasa lelah dan putus asa. Menghiburku di saat aku sedih. Mama yang mengajariku kebaikan. Aku jadi sadar bahwa semua omelanmu itu untuk kebaikanku Mama. Aku menyesal sudah berpikiran buruk tentang Mama.
“Kak kok melamun?’ Eren menyadarkan lamunanku. “eh tidak kok Dik, Kakak hanya kangen sama Mama, yuk belajar lagi” jawabku. Aku harus bisa membalas kebaikan Mama dan Papa. Aku harus menjadi orang sukses, pikirku.
            Mulai sekarang, aku berjanji tidak akan mengabaikan nasehat Mama dan selalu menjadi anak yang baik. Oh, iya, aku juga berusaha agar tidak iri dengan Eren dan menjadi Kakak yang bisa memberi contoh yang baik buat Eren. Aku akan membuatmu bangga Mama.
            Keesokan harinya, nenek datang ke rumah untuk menemaniku dan Eren. 3 hari kemudian Mama diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah Mamaku sudah sembuh. Love U Mama.

Kamis, 25 Juni 2015

Cerpen : My Lovely Sister

My Lovely Sister

Hih! Aku sedang sebal dengan adikku, Fira. Ia selalu merebut benda apapun yang sedang kupakai. Mulai dari handphone sampai buku bacaan. Kadang, Fira juga jahil.

Pernah saat itu, aku mempunyai gelang pemberian dari sahabatku. Tapi, gara-gara Fira, gelangku menjadi rusak. Tentu saja, aku sangat marah pada Fira. Tapi, Mama bukannya membelaku, tetapi malah menasehatiku bahwa Fira masih terlalu kecil untuk paham. Tetapi, aku tetap tidak memperdulikan nasehat dari Mama.

Pernah juga, Fira menghilangkan buku pelajaranku saat ujian kenaikan kelas (UKK). Aku langsung mengamuk dan memarahi Fira. Apalagi, yang dihilangkan adalah buku Bahasa Inggris, pelajaran favorite sekaligus pelajaran tersusah bagiku. Namun, lagi-lagi Mama tidak memarahi Fira tetapi malah menasehatiku lagi. Aku sampai bosan.

Satu lagi, pernah Fira merebut kipas angin dikamarku. Padahal, dikamar Mama (Fira masih tidur sama Mama) sudah ada ACnya. Kalau masalah ini, aku tidak terlalu marah. Sebaliknya, aku malah tertawa terbahak-bahak. 😀

Tetapi, ada suatu kejadian yang membuatku sadar bahwa adikku ini sangat menyayangiku.

Saat itu, aku sehabis shalat Isya di masjid. Aku pulang dari masjid. Sesampainya dirumah, tepat pada saat itu, mati lampu. Aku segera mencari senter dan buru-buru menyalakan. Ternyata, Fira sedang duduk ketakutan disofa teras.

Saat kutanya dimana Mama dan Papa, Fira menjawab Mama dan Papa sedang pergi belanja untuk kebutuhan sekolahku dan Fira. Lalu kutanya lagi, kok Fira tidak ikut.

Dengan polos, ia menjawab:  "Soalnya mau menemani mbak Desti. Nanti mbak Desti sendirian. 😀

Jadi,  sayangi apa yang sudah ada sebelum jauh meninggalkanmu..😚

Selasa, 19 Mei 2015

Cerpen : Pengalaman ke Prambanan

Cerpen : Pengalaman ke Prambanan

Hari ini, aku bosan hanya liburan di rumah. Hmmm... kemana ya? Ke Mall? Sudah bosan, masa setap liburan ke mall? Lagi pula ngabis-ngabisin uang! Boros, kan, jadinya.

"Gimana kalau ke Candi Prambanan. Kita, kan, belum pernah kesana!" usul Rafi, adikku.

"Boleh juga, lho!" kata Mama menyetujui usulan Rafi.

"Hmmn, emangnya disana ada apa, sih?" tanyaku.

"Disana ada candi yang menyimpan salah satu budaya di Indonesia ini, tepatnya di Jogja. Ada ceritanya juga, lho!" jawab Mama. "Yasudah, sana cepat siap-siap," lanjut Mama.

Aku, Rafi, dan Fira mandi bergantian. Aku mengenakan kaos ungu bergambar Teddy Bear dan celana jeans panjang. Sementara Rafi mengenakan kaos orange berkancing dan celana berbahan jeans selutut. Yang terakhir Fira mengenakan dress ala anak-anak balita berwarna merah.

Setelah siap, aku dan keluargaku membeli camilan dulu. Kata Mama, disana pasti pengin ngemil. Kami membeli banyak camilan. Mulai dari camilan kering, camilan basah, sampai minuman. Itu semua hampir aku semua yang memilih, lho!

Lalu, kami menuju Candi Prambanan menggunakan mobil. Diperjalanan, aku bercanda dengan Rafi dan Fira. Rafi memang senang melontarkan lelucon. Walaupu kadang-kandang leluconnya garing juga, sih! Hahaha...

Sesampainya disana, kami berfoto-foto dahulu. Aku memfoto pemandangan indah dengan lagak seperti photographer profesional. Seentara Fira dan Rafi lari-lari kesana-kemari. Eh, emangnya lagunya Ayu Tingting? Hahaha...

Disana, ada banyak sekali candi. Kabarnya, dulu candi ini berjumlah 1000 candi. Namun, sekaang sudah banyak yang runtuh karena gempa tau penyebab lainnya. Ada canti Siwa, Candi Wisnu, Candi Brahma, Candi Nandi, Candi Garuda, dan banyak candi lainnya yang juga bagus-bagus. Namun, Candi yang paling besar adalah Candi Siwa.

Karena disana merupakan salah satu budaya yang ada di Indonesia, banyak turis yang mengunjungi Candi Prambanan. Ada yang dari America, China, Jepang, dan India. Itu bukti dari keindahan arsitektur Candi Prambanan.

Setelah 1 jam  berkeliling-keliling, kami istirahat sebentar. Kami memakan cemilan yang tadi sudah dibawa dari rumah. Saking rakusnya, aku sampai ditertawakan salah satu turis yang sepertinya berasal dari China. Hahaha... Walaupu agak malu, aku tetap senang.

Lalu, kami melanjutkan berkeliling-keliling candi lagi. Kalau sekarang, pemandangan lebih indah karena langit bergradasi tiga warna, yaitu putih biru, dan orange. Wow, bagus ya!

Karena hari sudah hampir gelap, kami pulag dengan hati gembira.

Jadi masi mau liburan cuma di mall terus?

Cerpen: Harus Jujur!

HARUS JUJUR!

Disebuah desa, ada tiga bersaudara bernama Intan, Ifa, dan Kiki. Mereka hidup dalam keterbatasan. Intan yang masih berumur 17  tahun bekerja sebagai buruh cuci dirumah-rumah tetangga. Ifa bekerja sebagai pedagang pisang goreng. dan yang terakhir Kiki, Kiki hanya membersihkan rumah saja. Intan dan Ifa tidak membolehkan Kiki bekerja. Toh, Kiki juga masih terlalu kecil.

Hari ini, Intan sedang banyak pekerjaan. Tapi ustru Intan malah merasa senang. Kenapa? Karena semakin banyak pekerjaan, semakin banyak gaji yang didapat, kan? Jarang-jarang pekerjaan Intan sebanyak ini.

"Ifa berangkat jualan pisang dulu, ya!" pamit Ifa.

"Iya," jawab Intan dan Kiki berbarengan.

"Kak Intan, boleh tidak aku kerumah Sisil? Aku sudah janjian akan bermain badminton pagi ini," pamit Kiki dengan sopan kepada Intan.

"Boleh. Tapi, sebelum Dhuhur sudah harus pulang, ya! Kakak mungkin pulang pukul dua belas, kalau kak Ifa mungkin sepuluh pagi," jawab Intan.

"Baik, Kak!" kata Kiki.

"Hati-hati dijalan! Jangan lari!" kata Intan mengingatkan.

Selang beberapa menit setelah Ifa dan Kiki pergi, Intan menuju ke rumah Bu Asri untuk bekerja. Intan memang bekerja di tiga rumah. Sesampainya dirumah Bu Asri, Intan mengucap salm.

"Assalamu'alaikum," kata Intan.

"Wa'alaikum salam. Oh, ternyata Intan. Silakan masuk," jawab Bu Asri dengan ramah. Bu Asri memang sangat ramah kepada siapapun.

Intan memasuki rumah Bu Asri yang cukup besar. Lalu, Intan segera mencuci pakaian dan alat masak yang kotor. Intan sama sekali tidak mengeluh.

"Intan, besok libur ya kerjanya. Soalnya saya keluar kota," kata Bu Asri tiba-tiba.

"O ya Bu, Terima kasih," jawab Intan.

Setelah semua pekerjaannya dirumah Bu Asri selesai, Intan berpamitan pada Bu Asri. Kali ini, Intan akan berkerja dirumah Bu Manda. Kalau pekerjaan dirumah Bu Manda, sih, tidak banyak. jadi hanya perlu waktu sebentar saja.

Selesai dirumah Bu Manda, Intan menuju rumah Bu Syifa. kalau dirumah Bu Syifa beda, cuciannya dibawa kerumah dan dikerjakan dirumah. Namun meskipun begitu, INtan tetap jujur.

"Ini ada buku-buku bekas anak saya. Mau tidak?" tawar BU Syifa.

"Mau, Bu!" jawab Intan mengiyakan.

"Ya sudah, ini buku-bukunya. Semoga bermanfaat," kata Bu Syfa seraya memberikan dua kresek besar.

Intan bergegas pulang kerumah. Sesampainya di rumah, dilihatnya Kiki sedang tidur dan Ifa sedang membaca buku.

"Hai If! Ini kakak bawa buku-buku dari Bu Syifa!" ujar Intan.

"Buku? Wah Bu Syifa sangat baik, ya!" kata Ifa. Intan hanya mengangguk.

                                                                                   :)
Tidak seperti biasanya, hari ini Intan berangkat kerja pukul 09.00. Karena itu, Intan dan Kiki memutuskan untuk membantu Ifa berjualan pisang goreng. Dari pada tidak ada kerjaan dirumah? mendingan membantu Ifa, kan?


Banyak pembeli berdatangan. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Intan, Ifa, dan Kiki beres-beres pulang. Saat memberekan, Kiki menemukan tas ransel hitam,. Kiki pun memberi tahu Intan dan Ifa.

Intan ingat, bahwa itu tas milik pembeli setia mereka, Bu Sari. Setiap hari, pasti Bu Sari membeli pisang goreng. Intan, Ifa, dan Kiki sepakat ingin mengembalikan tas itu besok saat Bu Sari beli.

Besoknya...

Sesuai dengan rencana, Intan dan adiknya mengembalikan tas Bu Sari. Bu Sari sangat berterima kasih dan memberi uang serta membolehkan mereka tinggal di Panti Asuhan milik Bu Sari.

Itu dia teman-teman! Buah dari kejujuran!

Sabtu, 18 April 2015

Cerpen : I Can Fly

I Can Fly"
'Karya : Desti Balqis Alimah Salsabila'

Wusshhh! Hwaaa!!! Aku bisa terbang! Tetapi, aku tidak bisa mengendalikan sayapku. Baru saja aku menyadari bahwa aku memiliki sayap berwarna pink dan ungu.

"Fifian!" kata seseorang memanggilku. Ternyata, yang memanggilku adalah Fani, teman dekatku. Ohh, Fani juga mempunyai sayap sepertiku. Hanya saja, warna sayapnya merah dan orange.

"Fani? Kok kita punya sayap ya??" tanyaku terbingung-bingung.

"Aku juga enggak tau. Tapi btw, kamu udah bisa menggunakan sayap?" kata Fani sambil tersenyum.

" Belum, hehehe..." jawabku tersenyum masam. Malu dong sama Fani, Fani saja sudah bisa!

"Sini kuajari, setelah ini kita ke pesta yang diadakan oleh Fina!" ajak Fani.

"Ok!" Fani mengajariku dengan sabar cara menggunakan sayap. Ternyata, menggunakan sayap itu susah lho! Harus menjaga keseimbangan tubuh.

Akhirnya, aku sudah bisa mrnggunakan sayapku yang indah. Seperti yang dikatakan Fani tadi, setelah ini, aku dan Fani akan pergi ke pesta yang ada dirumah Fina.

Karena Fani sangat baik hati, Fani meminjamkanku gaun yang warnanya serasi dengan warna sayapku. Tak lupa, Fani juga mendandaniku dengan make up.

Fani jufa tidak kalah cantiknya. Fani terlihat sangat anggun. Bahkan, sudah menandingi keanggunan seorang putri dari kerajaan. Hehehe...

Aku dan Fani terbang melintasi hutan kecil mrnuju rumah Fina. Kami harus sngat berhati-hati karena banyak ranting-ranting pohon yg menganggu perjalanan.

Hwuuaaaa!!! Karena tidak berhati-hati, aku menabrak pohon.

Jeduk! Aku jatuh dari tempat tidurku. Huh! Ternyata hanya mimpi?

Cerpen : Hilangnya Seruling Yura



          Hilangnya Seruling Yura
Farah, Zara, Rama, dan Risyad membentuk club detektif. Farah, Zara, Rama, dan Risyad sudah banyak memecahkan kasus-kasus pencurian dan sebagainya. Oleh karena itu, nama mereka cukup terkenal di Kota Yogyakarta.
          Hari ini, Farah, Rama, dan Risyad menemani Zara ke JEC untuk mengikuti lomba bermain music. Zara bermain music biola. Sejak kelas 1 SD, Zara sudah hebat bermain biola.
          Sesampainya di JEC, Zara dan teman-temannya membeli jajanan dibeberapa stand. Lombanya masih akan dimulai 2 jam lagi. Jadi Zara bisa sedikit santai.
          Tiba-tiba, salah satu teman Zara yang mengikuti lomba menghampiri Zara. Namanya adalah Yura. Katanya, Yura akan bermain seruling. Tapi, mengapa mukanya terlihat cemas, ya?
          “Zara! Gawat! Serulingku hilang!” kata Yura panik.
          “Hah? Kok bisa, sih?” tanya Zara ikut-ikutan terkejut.
          “Aku juga tidak tau! Baru saja hilang! Bantu carinya, dong! Kaliankan detektif!” jawab Yura dengan kepanikan.
          “Oke. Eh, tapi Farah mana?” ujar Zara.
          “Enggak tau, dari tadi belum balik. Katanya sih, mau ke toilet sebentar!” jawab Rama. Risyad hanya mengangguk karena sedang mengunyah burger.
          Sekiar 10 menit menunggu, akhirnya Farah datang juga. Farah seperti terkejut melihat Yura. Dari dulu, Yura memang saingan Farah untuk memperebutkan juara kelas.
          Zara, Farah, Rama, Risyad, dan Yura mencari-cari seruling milik Yura. Namun sudah kemana-mana, tetap tidak ketemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari dimobil milik Yura.
          Hasilnya tetap nihil. Tidak ada. Yura sudah menangis karena terlalu cemas. Bagaimana kalau Yura tidak bisa mengikuti lomba? Pasti orang tuanya akan sangat kecewa. Suda banyak perjungan Yura untuk mengikuti lomba ini.
          Mereka memutuskan untuk kembali ke dalam gedung JEC. Namun saat melewati mobil Farah…
          “Itu serulingku!” seru Yura saat melihat kedalam mobil Farah. Wajah Farah tampak sangat pucat.
          “Farah? Kamu yang mengambil seruling milik Yura?” tanya Zara hati-hati. Zara takut Farah tersinggung.
          “Iya… Ma..af.. ya?” jawab Farah sambil menundukkan kepala. Farah sangat merasa bersalah.
          Walaupun Yura sudah memaafkan Farah, tetapi Farah tetap merasa bersalah.
          “Tapi kenapa, Rah?” tanya Zara, Rama, dan Risyad.
          “Karena aku ingin membuat Zara menang,” jawab Farah.
          “Tidak perlu begitu untuk menang. Tetapi, aku tetap menghargai kamu, kok!” hibur Zara.
          “Iya, aku juga sudah memaafkan kamu!” Yura juga menghibur Farah.
          Sejak saat itu, Farah dan Yura sudah tidak bermusuhan lagi. Malah, sekarang Yura menjadi sahabat Farah, Zara, Rama, dan Risyad.